Saat hari pertama masuk kerja, mungkin Anda pernah merasa malas dan cepat lelah. Padahal, di hari sebelumnya Anda telah cukup beristirahat atau bahkan bersenang-senang saat mengambil cuti. Kondisi seperti ini biasa disebut dengan social jet lag.

Dipengaruhi kebiasaan dan lingkungan

Manusia memiliki irama sirkadian, yaitu pengaturan waktu pada tubuh kapan harus beraktivitas dan kapan harus beristirahat. Irama sirkadian pada setiap orang bervariasi, bergantung kepada genetik dan pengaruh lingkungan.Tidak mengherankan, anak yang orang tuanya rajin begadang cenderung suka tidur lebih malam dibanding anak lainnya. Aktivitas sehari-hari seperti bekerja atau bersekolah juga akan mempengaruhi pilihan waktu tidur.

Irama sirkadian juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, misalnya ketika lampu dimatikan, Anda cenderung untuk lebih mudah tidur dibandingkan saat lampu dinyalakan.

Uniknya, irama sirkadian ini memiliki penyesuaian waktu tidur dan beraktivitas yang berbeda antara saat periode liburan dan hari biasa, dan hal inilah yang akhirnya menyebabkan seseorang terkena social jet lag.

Waktu tidur yang tidak terpenuhi saat hari kerja diatur sedemikian rupa agar terpenuhi saat periode libur. Dengan kata lain, tubuh mengatur mekanisme “balas dendam” tidur ini di akhir pekan.

Dampak yang akan dialami

Bila Anda sering mengalami social jet lag seperti yang dijelaskan di atas, ada baiknya segera memperbaiki pola tidur agar terhindar dari berbagai gangguan kesehatan berikut ini:

1. Penyakit jantung

Menurut American Academy of Sleep Medicine kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan, menimbulkan suasana hati yang buruk, rasa lelah, dan selalu mengantuk. Gawatnya, kondisi social jet lag ini dikatakan berisiko menyebabkan peningkatan penyakit jantung sebesar 11 persen.

2. Obesitas

Profesor Till Roenneberg dari Ludwig-Maximilian University, Jerman, melakukan penelitian bersama teman-temannya dan menemukan fakta bahwa orang yang waktu beraktivitasnya berlawanan dengan irama sirkadian yang normal antara tidur dan bekerja akan berisiko meningkatkan indeks massa tubuh atau dengan kata lain meningkatkan risiko kegemukan (obesitas) hingga 33 persen.

3. Diabetes

Ketika seseorang beraktivitas di waktu yang seharusnya digunakan untuk tidur, secara tidak langsung ia juga memaksa tubuhnya untuk bekerja di periode waktu tersebut. Metabolisme dalam kondisi minimal pun dipaksa untuk menjadi optimal untuk memenuhi kebutuhan energi saat beraktivitas.

Hal ini dapat menyebabkan kelainan metabolisme glukosa dan bisa berujung pada diabetes tipe 2 atau sindrom metabolik ( kelainan profil lipid, peningkatan kadar gula darah, lingkar perut yang besar,dan tekanan darah tinggi).

Tips menghindari social jet lag

Idealnya, irama sirkadian normal seharusnya diikuti, yakni tidur di malam hari dan beraktivitas di pagi hingga sore hari. Sayangnya, beberapa jenis pekerjaan memaksa Anda untuk mengubah irama sirkadian tersebut.

Untuk menurunkan risiko social jet lag, Anda disarankan untuk memperpanjang durasi waktu tidur. Sebab, semakin sedikit waktu tidur, maka efek social jet lag yang tidak diinginkan akan cenderung meningkat.

Menurut American Academy of Sleep Medicine, orang dewasa setidaknya memiliki waktu tidur 7 jam atau lebih dalam satu hari supaya tetap sehat. Selain jumlah waktu tidur, kualitas dan keteraturan jam tidur di malam hari juga penting untuk dipenuhi agar terhindar dari badan lemas karena social jet lag.

Untuk menghindari social jet lag, pola tidur yang baik juga perlu Anda terapkan di akhir pekan sekalipun. Dengan demikian, Anda pun akan terhindar dari risiko berbagai gangguan kesehatan di atas. Mulai sekarang, yuk optimalkan waktu tidur Anda dan hindari begadang untuk hal yang tidak perlu.

Sumber : www.klikdokter.com

RS Juwita Bekasi 2015