2 1 3 4 5 6 7 8 9 10 11

SPESIALIS ANAK

FISIOTERAPI

HEMODIALISA

FARMASI

POLI RAWAT JALAN

LABORATORIUM

SPESIALIS THT

RUANG OK

RUANG NICU

RUANG ICU

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah

Hipertensi adalah gangguan yang memiliki banyak penyebab. Berbagai faktor yang dapat memengaruhi terhadap terjadinya hipertensi antara lain:

· Usia

Ternyata, semakin bertambahnya usia maka risiko Anda menderita hipertensi juga turut bertambah. Laki-laki berusia di atas 55 tahun dan wanita berusia di atas 65 tahun memiliki risiko menderita tekanan darah tinggi lebih besar. Perbedaan usia ini dikarenakan wanita memiliki efek pelindung pembuluh darah pada hormon estrogen selama belum mengalami menopause.

· Obesitas

Jika Anda memiliki berat badan berlebih atau obesitas, mungkin Anda perlu menurunkan berat badan segera. Berat badan yang berlebihan diketahui dapat meningkatkan risiko Anda mengalami hipertensi.

· Stres

Jika Anda tergolong mudah stres psikologis atau tidak dapat mengelola stres dengan baik, waspadalah karena Anda punya risiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi. Selain itu, seseorang dengan tingkat stres yang tergolong tinggi juga lebih berisiko terkena penyakit jantung.

· Rokok

Merokok diketahui secara luas tidak membawa manfaat baik bagi kesehatan. Kebiasaan ini dapat menyebabkan lonjakan pada tekanan darah. Kandungan nikotin dalam rokok dapat memacu sistem saraf untuk melepaskan zat kimia yang dapat menyempitkan pembuluh darah dan berkontribusi terhadap terjadinya hipertensi.

· Gangguan ginjal

Seseorang yang memiliki gangguan ginjal juga memiliki risiko mengalami hipertensi lebih besar, yang dikenal sebagai hipertensi renal. Gangguan ini disebabkan oleh penyempitan arteri yang menghantarkan darah ke ginjal.

· Riwayat keluarga dengan hipertensi

Jika ada anggota keluarga yang memiliki hipertensi, maka Anda juga memiliki kemungkinan terkena hipertensi. Namun, Anda tidak perlu khawatir karena risiko ini dapat diturunkan dengan melakukan pola hidup sehat seperti pengaturan pola makan dan olahraga secara rutin.

Sumber : https://www.klikdokter.com

 

Minuman sugar free biasanya dicap sebagai asupan yang lebih sehat dibanding dengan yang mengandung gula. Namun ternyata, menurut British Dental Journal, makanan dan minuman yang memiliki label sugar free mengandung zat asam yang dapat menyebabkan masalah pada gigi, lho!

 

● Gigi keropos

Tahukah Anda bahwa minuman berlabel sugar free masih mengandung gula di dalamnya? Ya, gula akohol alias polyols.

Gula alkohol memang dapat mengurangi risiko gigi berlubang. Akan tetapi, gula tersebut juga dapat menyebabkan keasaman di dalam mulut, sehingga dapat menyebabkan erosi email gigi. Jika keadaan ini berlangsung dalam waktu lama, risiko gigi keropos akan meningkat berlipat ganda.

Golongan usia yang paling rentan mengalami gigi keropos akibat minuman berlabel sugar free adalah anak-anak. Hal ini karena struktur gigi anak, termasuk lapisan email, belum terbentuk dengan sempurna, sehingga asam yang terbentuk akibat gula alkohol pada minuman berlabel sugar free akan sangat mudah menyebabkan erosi alias proses pengikisan gigi.

● Tambalan gigi semakin mudah terlepas

Minuman dengan label sugar free, apalagi yang mengandung soda, dapat mengurangi tingkat kekerasan permukaan email, dentin, termasuk permukaan tambalan gigi. Keadaan ini pada akhirnya membuat tambalan gigi semakin cepat “bocor” atau bahkan lepas.

Jika tambalan gigi terlepas dari tempatnya, risiko terjadinya gigi sensitif akan meningkat berlipat ganda. Bila sudah seperti ini, Anda akan sering mengalami keluhan gigi ngilu, khususnya saat mengonsumsi makanan panas, dingin, atau manis.

● Tulang keropos

Selain memberikan efek negatif bagi gigi, minuman dengan label sugar free juga dapat menyebabkan dampak buruk bagi tulang. Apalagi bila minuman tersebut memiliki kandungan soda di dalamnya.

Untuk diketahui, minuman sugar free yang mengandung soda memiliki kandungan asam fosfor yang tinggi, sehingga rasanya cenderung asam. Rasa asam ini dapat membuat tulang kehilangan sejumlah kalsium secara perlahan. Jika terjadi dalam waktu lama, bukan tak mungkin Anda akan mengalami tulang keropos.

Bagaimana solusinya?

Untuk mengurangi efek negatif yang bisa timbul akibat minuman sugar free, berikut beberapa tips yang bisa Anda ikuti:

· Konsumsi makanan dan minuman saat waktu makan besar. Tindakan ini dapat membantu mengurangi serangan asam pada gigi Anda.

· Minumlah langsung dengan cepat, agar minuman tidak menggenang di sekitar gigi. Atau, gunakan sedotan untuk memperkecil kontak minuman dengan gigi.

· Setelah konsumsi minuman tersebut, minumlah susu atau makan keju untuk menetralisir keasamannya.

· Kunyah permen karet sugar free, agar air ludah terproduksi. Ini dapat membantu menetralkan keasaman di dalam mulut.

· Tunggu setidaknya 1 jam setelah konsumsi minuman tersebut sebelum menyikat gigi. Hal ini bertujuan untuk memberikan waktu pada email gigi untuk kembali mengeras.

· Sikat gigi menggunakan pasta gigi berfluoride setidaknya satu kali setelah konsumsi minuman tersebut. Pastikan Anda menyikat gigi dengan sikat gigi berbulu lembut.

Setelah mengetahui fakta medis di atas, diharapkan Anda bisa terjebak begitu saja dengan janji manis yang ditawarkan minuman berlabel sugar free.

Sumber : https://www.klikdokter.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

kesehatan gigi dan anggota tubuh lainnya mengalami gangguan, bukan?

Bulan Ramadan tiba. Di bulan ini, setiap umat Muslim yang sudah dewasa diwajibkan untuk berpuasa. Ini berarti, Anda yang sedang menyusui juga dianjurkan untuk melakoninya. Pertanyaannya, apakah menyusui sambil berpuasa membawa dampak tersendiri bagi bayi dan ibu?

Tenang, Anda tidak perlu khawatir. Puasa tetap dapat dilakukan sekalipun Anda sedang menyusui. Beberapa hal memang harus menjadi pertimbangan, seperti usia bayi dan kondisi kesehatan ibu secara umum.

 

Seberapa Aman bagi Bayi?

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa puasa dalam jangka waktu tertentu tidak akan mengurangi produksi ASI. Tubuh ibu tetap dapat menghasilkan ASI dalam jumlah yang sama meski dirinya sedang berpuasa. Kandungan gizi di dalam ASI mungkin akan sedikit berubah, tetapi tidak terlalu signifikan.

Saat berpuasa, tubuh ibu juga akan menyesuaikan pola metabolisme sehingga tetap dapat memproduksi ASI dengan kualitas terbaik. Dengan demikian, Anda dapat yakin bahwa ASI yang diproduksi tetap bergizi tinggi.

Anda tak perlu khawatir akan terjadi penurunan berat badan bayi lantaran memberikan ASI sambil berpuasa. Faktanya, penelitian ilmiah berkata bahwa berat badan bayi maupun pertumbuhan bayi tidak akan terkena dampak negatif sekalipun ibu menyusui sambil berpuasa. Dengan kata lain, bayi-bayi yang disusui oleh ibu yang berpuasa tidak lantas mengalami penurunan berat badan.

 

Seberapa Aman bagi Ibu?

Jika bagi bayi aman, apalagi untuk sang ibu. Pada dasarnya tubuh Anda dapat beradaptasi terhadap kondisi yang terjadi saat puasa. Hal yang perlu benar-benar diperhatikan adalah memilih asupan sehat dan bergizi seimbang ketika sahur dan berbuka. Salah pilih menu, Anda bisa mengalami gangguan kesehatan di kemudian hari.

Contohnya, asupan mikronutrien seperti kalsium menjadi terbatas saat berpuasa, sementara nutrien tetap diserap ke dalam ASI. Kompensasinya, tubuh akan mengambil kalsium dari sumber lain yaitu tulang. Bila asupan kalsium selama puasa kurang, Anda akan berisiko mengalami masalah tulang seperti kram tungkai atau bahkan osteoporosis.

Hal lain yang harus diwaspadai saat menyusui sambil berpuasa adalah ancaman dehidrasi. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, pastikan untuk selalu minum setidaknya 2 liter air per hari.

Kebutuhan ini dapat Anda bagi sedemikian rupa. Misalnya, 1 liter saat sahur dan 1 liter saat berbuka. Namun, bila Anda merasa lemas, pandangan berkunang-kunang, buang air kecil berkurang, jangan paksakan diri untuk berpuasa. Segera ambil minum untuk menggantikan cairan tubuh Anda yang hilang.

 

Tips Menyusui saat Berpuasa

Berikut adalah beberapa kiat yang bisa Anda lakukan untuk tetap berpuasa meski sedang menyusui:

 

· Sahur dan berbuka dengan makanan bergizi

Pastikan asupan yang terhidang saat sahur dan berbuka adalah menu yang bergizi lengkap dan seimbang. Khusus bagi ibu menyusui, perbanyak asupan lemak, protein, serta serat sebagai modal Anda untuk menjalani ibadah puasa sambil menyusui atau memerah ASI.

 

· Cukupi kebutuhan cairan

Minum setidaknya 8 gelas air putih per hari, termasuk saat puasa. Mudahnya, Anda dapat minum dua gelas saat sahur, dua gelas saat berbuka, dan empat gelas diantara waktu berbuka dan sahur.

 

· Makan malam

Di antara waktu sahur dan berbuka, Anda dapat makan kembali dengan porsi dan kandungan gizi cukup. Hal ini bertujuan untuk melengkapi nutrisi yang Anda perlukan.

 

· Fleksibel

Dengarkan tubuh Anda. Bila Anda mulai merasa sangat lemas, jangan paksakan diri untuk melanjutkan puasa.

Selain di atas, yang tak kalah penting adalah berkonsultasi dengan dokter sebelum Anda memutuskan untuk berpuasa saat sedang menyusui. Apabila semuanya aman dan dalam kondisi baik, maka menyusui tidak menjadi penghalang untuk menjalankan ibadah wajib ini. Selamat berpuasa!

 

Sumber : https://www.klikdokter.com/rubrik/read/3533217/puasa-saat-menyusui-apa-dampaknya-bagi-bayi-dan-ibu

Terkadang penyakit gigi seperti musuh dalam selimut. Tanpa disadari dapat muncul dan menyerang tiba-tiba. Pada beberapa keadaan, penyakit gigi dan mulut dapat terjadi tanpa gejala. Maka dari itu disarankan untuk rutin mengunjungi dokter gigi minimal enam bulan sekali untuk pemeriksaan berkala dan pembersihan gigi.

Menjaga kesehatan gigi dan mulut serta rutin berkunjung ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali, sangat penting dilakukan. Hal ini untuk mencegah penyakit yang ada berkembang menjadi lebih lanjut dengan mendeteksinya sedini mungkin. Pastikan pula Anda menggunakan pasta gigi yang mengandung Micro-Granules, yang dapat membersihkan permukaan gigi hingga sela-sela gigi yang sulit dijangkau serta mengandung Zinc Citrate yang memiliki sifat anti bakteri sehingga membantu menjaga kesehatan gusi hingga 24 jam.

Waspadai Gejala Penyakit Gigi Ini!

Berikut terdapat beberapa gejala penyakit gigi dan mulut yang patut Anda perhatikan:

·         Gusi Berdarah

Gusi berdarah dapat menjadi pertanda terjadinya radang pada gusi atau gingivitis, namun gusi berdarah juga dapat terjadi akibatluka atau terkait penyakit tertentu. Gusi berdarah yang banyak dialami oleh masyarakat pada umumnya biasanya dikarenakan radang gusi yang terjadi akibat dari tumpukan plak dan karang gigi.

·         Gigi Goyang

Bakteri merupakan penyebab utama dari penyakit gusi. Plak pada gigi yang bercampur dengan sisa makanan bila tidak dibersihkan dapat mengeras menjadi karang gigi, dimana karang gigi yang berisi bakteri ini dapat menyebabkan kerusakan dan penyakit gusi yang dapat berujung pada goyangnya gigi. 

·         Bau Mulut

Penyebab bau mulut bermacam-macam dan tidak hanya disebabkan oleh karena makanan atau kebersihan rongga gigi dan mulut yang tidak terjaga. Bau mulut yang timbul dapat terkait dari beberapa penyakit, baik penyakit yang menyangkut jaringan dalam rongga mulut maupun penyakit dalam tubuh yang memerlukan perawatan medis serius, seperti infeksi paru-paru, sinus, atau diabetes. Penyakit gusi dan gigi berlubang juga berkontribusi pada masalah bau mulut.

Jika Anda mendapati gejala-gejala seperti ini, segera kunjungi dokter gigi. Dokter gigi Anda akan mendiagnosa masalahnya dan akan memberikan penangan secara dini.

Sumber : https://www.klikdokter.com/rubrik/read/2860268/gejala-penyakit-gigi-yang-harus-diwaspadai

Penyebab Telinga Berdenging

Tinitus hanyalah gejala, sehingga perlu diketahui penyebabnya. Tinitus menunjukkan adanya gangguan pada sistem pendengaran. Telinga terdiri atas 3 bagian yaitu telinga luar, tengah dan dalam. Berbagai bagian telinga dapat menimbulkan keluhan tinitus. Namun, sering kali tinitus dikaitkan dengan tuli saraf, yaitu tuli akibat adanya gangguan pada organ telinga bagian dalam.

Berikut ini adalah beberapa penyebab timbulnya tinitus:

1.     Kelainan telinga luar. Kotoran telinga yang terlalu banyak, terutama hingga menyentuh gendang telinga, bisa menyebabkan penekanan serta perubahan getaran gendang telinga sehingga menimbulkan tinitus.

2.     Kelainan telinga tengah. Infeksi telinga tengah, otosklerosis (penebalan tulang pendengaran), kejang otot gendang telinga dan tulang pendengaran juga dapat menumbulkan tinitus.

3.     Kelainan telinga dalam, merupakan kerusakan atau hilangnya sel-sel rambut di telinga dalam akibat suara yang terlalu kencang, obat-obatan, ataupun karena usia lanjut.

4.     Kelainan pusat pendengaran di otak, misalnya neuroma akustik atau karena kerusakan saraf akibat cedera kepala.

5.     Tumor di daerah kepala, leher, atau telinga sehingga menimbulkan keluhan tinitusyang seperti denyut jantung (tinitus pulsatil).

6.     Gangguan sendi rahang atau temporomandibular joint disorder (TMJ disorder atau TMD), yaitu suatu sindroma dimana penderita merasakan nyeri pada sendi rahang, yang disebabkan oleh beberapa kondisi. Nyeri dapat dirasakan pada bagian tengkuk, leher, wajah, telinga, dan kepala. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan gerakan saat membuka rahang dan mengunyah, dan dapat mengeluarkan suara “klik” atau “pop” saat penderita menggerakkan sendi rahangnya.

7.     Depresi, gangguan cemas, insomnia.

8.     Kelelahan.

Beberapa kebiasan seperti mengonsumsi alkohol, merokok, termasuk konsumsi kafein berperan terhadap munculnya keluhan tinitus. Kondisi tubuh seperti kurang darah (anemia), alergi, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, diabetes, dan gangguan hormon tiroid bisa menyebabkan tinitus.

Penanganan telinga berdenging

Pengobatan tinitus bergantung pada penyebabnya. Kadang penyebab tinitus sulit untuk diketahui sehingga sulit pula untuk mengobatinya. Seperti contoh, jika tinitus disebabkan oleh kotoran telinga yang berlebih, maka dapat dilakukan pembersihan kotoran di liang telinga. Atau jika penyebabnya adalah infeksi telinga tengah, maka yang diobati adalah infeksinya, dan lain-lain.

Pada umumnya, pengobatan tinitus dibagi menjadi empat cara, yaitu:

1. Konseling

Bertujuan untuk memahami tinitus dan mencari cara untuk dapat menerima kondisi tersebut.

2. Terapi kognitif dan perilaku

Terapi ini dilakukan secara bertahap untuk mengubah cara pandang tentang tinitus agar penderita tidak cemas, sekaligus mengajarkan relaksasi untuk dilakukan setiap hari.

3. Elektrofisiologik

Dengan memberikan stimulus elektro akustik dengan intensitas suara yang lebih keras dari tinitusnya. Ini dapat dilakukan dengan alat bantu dengar atau masker tinitus.

4. Tinnitus retraining therapy (TRT)

Menggunakan  terapi suara untuk melatih ulang otak agar tidak terlalu terganggu dengan tinitus.

5. Obat-obatan

Obat-obatan yang digunakan harus berdasarkan penyebabnya, yaitu beberapa obat antidepresan, antikejang, ansiolitik, vitamin, dan mineral.

6. Pembedahan

Tindakan bedah dapat dilakukan untuk mengatasi tinitus yang diakibatkan tumor otak.

 

Untuk mencegah terjadinya tinitus, beberapa perubahan gaya hidup perlu dilakukan, mulai dari:

1.     Menghindari sumber atau paparan suara keras

2.     Kontrol tekanan darah, lakukan cek darah rutin

3.     Rutin berolahraga untuk meningkatkan aliran darah

4.     Istirahat yang cukup

5.     Hindari kelelahan

Jika Anda mengalami kondisi telinga berdenging atau tinitus, jangan sepelekan, karena ada beragam penyebab timbulnya gangguan ini. Sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter spesialis THT untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lainnya.

Sumber : https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3513925/tinitus-ketika-telinga-berdenging

RS Juwita Bekasi 2015