2 1 3 4 5 6 7 8 9 10 11

SPESIALIS ANAK

FISIOTERAPI

HEMODIALISA

FARMASI

POLI RAWAT JALAN

LABORATORIUM

SPESIALIS THT

RUANG OK

RUANG NICU

RUANG ICU

Saat melakukan banyak aktivitas fisik atau terlalu lama diam di posisi tertentu, biasanya tubuh akan merasakan pegal atau nyeri. Dan bagian yang kerap kali merasakan nyeri tersebut adalah bahu, betis, ataupun pinggang. Lantas, bagaimana dengan bagian tumit? Bila pernah merasakan nyeri tumit, biasanya itu disebabkan oleh adanya penekanan yang berulang sehingga ligamen Anda meradang.

Penyebab nyeri tumit

Tekanan berlebih pada tumit kerap kali dihasilkan oleh olahraga yang melibatkan banyak lompatan, misalnya basket. Penggunaan sepatu hak tinggi yang terlalu sering dan terlalu lama pun bisa menyebabkan tumit terasa nyeri. Apalagi jika Anda tidak sempat duduk untuk mengistirahatkan kaki (terlalu banyak berdiri dan berjalan). Alhasil, nyeri di bagian tumit dan lengkungan telapak kaki makin menjadi-jadi.

Sebenarnya, rasa nyeri tidak serta-merta datang saat Anda selesai berolahraga atau melepas sepatu. Rasa nyeri biasanya akan hadir setelah keesokan harinya Anda bangun pagi. Pada awalnya, nyeri masih terasa ringan dan bisa membaik dengan sendirinya jika Anda mengistirahatkan kaki dari pemakaian sepatu yang tidak tepat ataupun olahraga yang membutuhkan lompatan.

Namun, jika nyeri sudah terasa dan Anda tetap memaksakan untuk terus beraktivitas fisik yang terlalu berat, nyeri tumit pun dapat bertahan lama dan dapat berkembang menjadi komplikasi. Dalam hal ini, bagian lain yang terhubung dengan jaringan tumit, yaitu lutut, pinggul, dan punggung akan dirugikan dan juga terasa nyeri.

Bagaimana mengatasi nyeri tumit?

Dilansir Medical News Today, jika Anda telanjur terkena nyeri tumit, ada perawatan rumahan yang bisa dilakukan untuk meredakan rasa nyerinya, antara lain:

Masukkan beberapa es batu ke dalam kantung kompres atau kalau tidak ada, gunakan selembar handuk untuk membungkus es tersebut. Kemudian, kompres dingin tumit       Anda selama 15 menit.  

Jika nyeri sampai mengganggu pergerakan tubuh, gunakanlah belat atau splint untuk menopang bagian yang nyeri.

Pasanglah orthotics atau alas sepatu yang memiliki lengkung sempurna untuk menopang telapak kaki dengan baik.

Jika Anda punya obat oles untuk anti nyeri otot, Anda bisa mengoleskannya pada bagian yang terasa nyeri.

Selain itu, jika Anda ingin tetap olahraga, ganti dulu olahraga Anda dengan jenis yang tidak terlalu membebani tumit, misalnya berenang atau angkat beban.

Meski melakukan aktivitas fisik yang terlampau berat hanya akan memperburuk gejala nyeri, terlalu lama berdiam diri juga tidak baik. Oleh sebab itu, lakukanlah peregangan “Seated Fascia Stretch”. Adapun tahap gerakannya meliputi:

1. Duduklah di kursi.

2. Bawa tumit yang nyeri ke atas lutut kaki yang satunya.

3. Tarik perlahan jari-jari kaki dengan tangan kiri dan tangan kanan memegang tumit yang nyeri.

4. Lalu masih dengan posisi yang sama, angkat pergelangan kaki Anda ke atas hingga telapak kaki terbentang dan tahan selama 10 hitungan.

5. Ulangi peregangan tersebut sebanyak 10-20 kali untuk meredakan ketegangan otot dan rasa nyeri. Untuk lebih jelasnya, Anda bisa mencari detail gerakan peregangannya      di YouTube.

Selain itu, masih ada dua peregangan lagi yang bisa Anda lakukan, yaitu Seated Ankle Pumps dan Standing Calf Stretch. Untuk Seated Ankle Pumps, gerakannya seperti ini:

1. Duduklah di kursi.

2. Lalu, luruskan kaki Anda dan regangkan pergelangan kaki.

3. Tahan tiap regangan selama 5 detik dan ulangi selama 10 kali.

Sedangkan untuk Standing Calf Stretch, adapun detail gerakannya adalah:

1. Letakkan kedua tangan di dinding.

2. Kaki yang tidak mengalami nyeri dibawa ke depan dan kaki yang nyeri dibawa ke belakang sehingga bisa memberikan efek tarikan pada betis dan kaki belakang bagian          bawah (pose seperti mendorong).

3. Tahan peregangan ini selama 10 detik dan lakukanlah beberapa kali.

4. Agar peregangan untuk meredakan nyeri tumit berjalan maksimal, Anda bisa melihat tutorial lengkapnya di YouTube. Apabila cara rumahan dan peregangan belum mampu mengusir rasa nyeri pada tumit, periksakan kondisi tersebut kepada dokter. Yang  penting juga, hindarilah faktor pemicu nyeri tumit. Sebab, jika nyeri tumit terus-menerus berulang, tentu butuh tindakan yang lebih berat untuk mengatasinya, yaitu operasi.

Sumber : www.klikdokter.com

 Kopi instan merupakan versi bubuk dan larut air dari kopi reguler. Untuk membuatnya, Anda cukup menambahkan beberapa sendok bubuk kopi instan ke dalam gelas serta air hangat. Karena proses pengolahannya, sebagian orang tidak menganggapnya sebagai “kopi asli”. Lalu, apakah sering minum kopi instan dapat berdampak buruk terhadap kesehatan seseorang?

Jawabannya, ya. Ingatlah bahwa kopi instan sebelum menjadi bubuk merupakan kopi cair yang sudah diseduh. Dalam kata lain, ketika Anda menambahkan air terhadap bubuk kopi, itu merupakan kedua kalinya kopi tersebut diencerkan. Konsumsi kopi berlebih yang berarti minum 7 gelas atau lebih per harinya, dapat memicu perilaku lekas marah, dada berdebar, insomnia, dan halusinasi.

 

Orang dengan gangguan panik serta gangguan kecemasan sosial juga harus waspada, karena mereka lebih mudah terkena efek kafein sehingga merasa gelisah. Berikut gangguan kesehatan lainnya akibat terlalu banyak mengonsumsi kopi instan:

Mengganggu penyerapan zat besi

Ternyata, kopi instan yang dikonsumsi saat atau satu jam setelah makan menyebabkan penurunan zat besi yang seharusnya dicerna oleh usus, secara signifikan. Mekanisme ini lebih besar dampaknya ketika jumlah kafein dalam kopi instan tersebut termasuk tinggi. Namun, hal ini tidak terjadi jika kopi instan dikonsumsi satu jam sebelum makan.

Berbahaya untuk ibu hamil

Minum kopi, baik kopi instan maupun kopi regular, tidak disarankan untuk ibu hamil. Dibandingkan tubuh Anda, tubuh janin yang masih berkembang memerlukan waktu lebih untuk memproses kafein tersebut. Akibatnya, janin akan terkena efek kafein yang lebih lama dari ibunya.

Memengaruhi sistem saraf

Cara kopi instan diproses menyebabkan terbentuknya akrilamid. Paparan akrilamid berhubungan dengan neurotoksisitas (berdampak buruk pada sistem saraf). Sementara akrilamid dalam makanan terbukti memicu pertumbuhan sel kanker pada studi menggunakan hewan percobaan. Meski begitu, hubungannya dengan kanker pada manusia belum dapat dikonfirmasi karena masih belum cukup bukti. 

Selain itu, jumlah akrilamid yang terpapar setiap harinya lewat diet maupun kopi sangatlah rendah dibandingkan dengan dosis yang diketahui berbahaya. Sehingga, mengonsumsi kopi instan tidak seharusnya membuat Anda khawatir akibat paparan akrilamid.

Harus dibatasi pada pengidap hiperoksaluria

Di samping akrilamid, kopi instan juga mengandung oksalat. Oksalat merupakan asam organik yang ditemukan pada tumbuhan, hewan, serta manusia. Pada orang yang mengidap penyakit hiperoksaluria, mereka memiliki oksalat berlebih pada urine sehingga dilarang untuk sering-sering mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung oksalat.

Keuntungan dari kopi instan sendiri adalah harganya yang lebih murah dan praktis untuk orang yang mobile. Kopi instan juga mengandung kafein lebih rendah dan memiliki banyak variasi.

Namun, bagi sebagian orang, rasa kopi instan kurang “nendang” karena kafein yang lebih rendah dibanding kopi regular. Selain itu, kopi instan mengandung akrilamid lebih tinggi dibandingkan kopi regular, serta mengandung pemanis dan creamer buatan sehingga lebih tinggi kalori.

Bagi sebagian orang, minum kopi instan memang lebih praktis. Namun ada bahaya yang harus diperhatikan dari kebiasaan mengonsumsi kopi jenis ini. Jika kopi instan  dikonsumsi pada porsi dan waktu yang tidak tepat dapat menyebabkan turunnya penyerapan zat besi, naiknya berat badan, hingga memicu rasa cemas. Jika Anda penyuka kopi instan, minumlah dalam jumlah yang tidak berlebihan.

 Sumber : www.klikdokter.com

Mungkin sebagian dari Anda punya teman yang jarak usia dengan saudara kandungnya hanya satu tahun. Jika memang demikian, berarti jarak kehamilan di antara keduanya tak sampai satu tahun. Padahal, jarak kehamilan satu tahun sangat dianjurkan untuk menjaga kondisi kehamilan yang sehat dan persalinan lancar.

Saat melahirkan, rasa sakit sehabis proses persalinan dan lemahnya kondisi tubuh biasanya tak langsung membaik. Bahkan, pada sebagian ibu hamil harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit untuk pemulihan pasca persalinan. Proses kehamilan yang terlalu berdekatan dikhawatirkan bisa menimbulkan dampak negatif bagi si ibu dan bayi di kemudian hari.

Pentingnya jarak kehamilan

Dilansir dari BBC, sebuah hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita harus menunggu setidaknya satu tahun untuk hamil kembali setelah melahirkan. Ya, agak berbeda memang dengan anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang merekomendasikan jarak 18-24 bulan. Hal ini tentunya bukan tanpa sebab.

Pasalnya, bila jarak bersalin anak pertama dengan hamil anak kedua terlampau dekat, risiko gangguan kesehatan pada ibu dan anak akan meningkat.

Menurut peneliti yang bernama Dr. Wendy Norman, hal tersebut merupakan kabar yang menggembirakan bagi sebagian kaum wanita, khususnya wanita di atas 35 tahun. Sebab, mereka menjadi punya alasan kuat dalam menahan keinginan pasangannya untuk cepat-cepat memiliki anak lagi, meski ia baru saja melahirkan.

Penelitian yang menggunakan data hampir 150.000 kelahiran di Kanada ini dilakukan oleh University of British Columbia (UBC) dan Harvard TH Chan School of Public Health dan dipublikasikan dalam JAMA Internal Medicine.

Sementara itu, jarak yang relatif dekat antar kehamilan bisa menyebabkan kelahiran prematur, rendahnya berat badan bayi, serta kematian pada ibu dan bayinya. Tak hanya itu, menyusui ketika hamil pun sebenarnya memberikan efek yang kurang nyaman pada si ibu.

Sebab, sensitifnya daerah puting saat hamil pasti akan terasa nyeri ketika diisap oleh bayi. “Selain itu, seiring pertambahan usia kehamilan, produksi ASI juga akan menurun.” kata dr. Anita Amalia Sari dari KlikDokter.

Jadi, memberikan jarak kehamilan setidaknya satu tahun jelas bermanfaat untuk mengurangi risiko komplikasi. Lagipula, dengan memberi jarak tersebut, ibu juga dapat memiliki lebih banyak waktu untuk memulihkan diri dan merawat serta mendidik anak pertamanya, sehingga pengalaman yang didapat juga pasti jauh lebih banyak.

 

Risiko jarak kehamilan terlalu dekat

Komplikasi akibat dari terlalu dekatnya jarak persalinan dengan kehamilan kedua sebetulnya tidak hanya terjadi pada ibu usia matang, tetapi wanita yang berusia 20 hingga 34 tahun juga memiliki risiko yang bisa jadi lebih tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian, wanita berusia di atas 35 tahun yang hamil lagi setelah 6 bulan melahirkan memiliki risiko 1,2 persen untuk mengalami kematian atau komplikasi penyakit. Sedangkan jika mereka menunggu hingga 18 bulan, risikonya menurun menjadi 0,5 persen.

Agak berbeda dengan wanita usia matang, wanita yang berusia antara 20-34 tahun memiliki risiko kelahiran prematur, kematian, dan komplikasi penyakit sebanyak 8,5 persen. Sedangkan jika mereka menunggu dulu hingga berselang 18 bulan, risiko terkena hal negatif tersebut menurun menjadi 3,7 persen.

Di sisi lain, Dr. Sonia Hernandez-Diaz yang merupakan peneliti sekaligus Direktur Program Pharmacoepidemiology dii Harvard TH Chan School of Public Health, mengungkapkan bahwa jarak kehamilan yang terlalu dekat pada wanita usia muda biasanya mencerminkan kehamilan yang tidak direncanakan.

Lantas, bagaimana caranya supaya hal tersebut tidak terjadi? Menurutnya, penggunaan alat kontrasepsi adalah cara yang paling efektif untuk mengatasi kehamilan yang tidak terencana.

“Meskipun demikian, bila kehamilan sudah telanjur terjadi, sebaiknya Anda fokus saja pada kehamilan tersebut, hindari stres, atur asupan nutrisi, dan lakukan kontrol kehamilan secara teratur dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan Anda.” ujar dr. Anita.

Jadi berdasarkan hasil penelitian dan penjelasan dokter, para ibu sebaiknya dianjurkan untuk memberikan jeda saat ingin hamil lagi, setidaknya selama 1-2 tahun. Hal ini berguna untuk memulihkan kondisi Anda setelah persalinan pertama, supaya terhindar dari risiko komplikasi penyakit yang membahayakan ibu dan bayi.

Sumber : klikdokter.com

Apakah Anda kerap merasa sulit berkonsentrasi ketika siang hari? Jika ya, mungkin Anda telah begadang malam sebelumnya. Kebiasaan ini harus segera diubah, karena begadang tak hanya menyebabkan keluhan mengantuk di siang hari, tapi juga bisa meningkatkan risiko stroke.

 

Dalam pembuktiannya, sebuah penelitian dilakukan dengan mengamati 470.000 partisipan berusia antara 7 hingga 25 tahun dari 8 negara. Penelitian yang dilakukan oleh profesor kedokteran jantung dan epidemiologi, Francesco Cappuccio, dan dosen ilmu klinis, Dr. Michelle Miller, mendapatkan kesimpulan bahwa orang yang tidur kurang dari enam jam per malam atau mengalami susah tidur memiliki kesempatan 48 persen lebih besar untuk mengalami kematian akibat penyakit jantung dan 15 persen lebih besar untuk terkena serangan stroke.

 

Memperkuat temuan tersebut, sebuah tinjauan dari 16 studi yang melibatkan 1,3 juta orang menunjukkan bahwa orang yang tidur kurang dari 6 jam setiap malam memiliki kemungkinan 12 persen lebih tinggi untuk meninggal sebelum usia 65.

Tak berhenti di situ, studi baru dari American Heart Association juga mengatakan hal demikian. Disebutkan bahwa orang-orang dengan sindrom metabolik yang kurang tidur memiliki risiko lebih tinggi untuk kehilangan nyawa akibat penyakit jantung dan stroke.

Mengapa kurang tidur bisa menyebabkan penyakit jantung dan stroke? Ini karena kurang tidur bisa mengubah area otak seperti hipotalamus dan sekresi hormon yang berpotensi meningkatkan nafsu makan. Kondisi ini merangsang sistem saraf simpatik yang kemudian meningkatkan tekanan darah. Akibatnya, terjadilah ketidakseimbangan dalam metabolisme dan regulasi glukosa tubuh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Solusi yang bisa Anda tempuh

Jika Anda tak ingin berakhir mengalami stroke atau kondisi mematikan lainnya, segera hentikan kebiasaan begadang mulai sekarang. Jika Anda begadang akibat sulit tidur, berikut ini beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasinya:

ü Hindari kafein berlebihan

Kafein yang Anda konsumsi akan membuat tubuh lebih aktif dan berenergi kurang lebih selama 8 jam lamanya. Jadi, jika Anda ingin merasa cepat mengantuk di malam hari, hindari konsumsi kafein mulai pukul 2 siang.

ü Relaksasi

Buatlah tubuh Anda relaks, khususnya ketika malam tiba. Untuk ini, Anda bisa mandi menggunakan air hangat, membaca buku, bermeditasi, atau memberikan wangi-wangian aromaterapi di kamar tidur.

ü Atur jadwal tidur dan bangun

Ingin bisa tidur? Atau ingin tidur lebih nyenyak dan berkualitas? Jika ya, pastikan Anda memiliki jam tidur dan bangun yang sama setiap hari, termasuk saat hari libur.

ü Hindari obat tidur

Hindari konsumsi obat tidur tanpa adanya anjuran dokter. Obat jenis ini tidak akan memberikan efek maksimal, apalagi bila digunakan secara sembarangan.

Yuk, hentikan kebiasaan begadang mulai sekarang! Jangan lupa untuk mengombinasikannya dengan penerapan gaya hidup sehat, berolahraga teratur, konsumsi makanan bergizi seimbang, serta hindari rokok maupun alkohol. Dengan ini semua, niscaya penyakit stroke dan kondisi berbahaya lainnya tak akan terjadi pada Anda.

sumber :klikdokter.com

 Indonesia kembali berduka. Bencana alam berupa gempa dengan magnitudo 7,4 terjadi di provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9/2018). Tak lama setelah gempa, tsunami kemudian muncul di kawasan Teluk Palu dan menghancurkan banyak rumah warga yang tinggal di sekitar lokasi kejadian.

Tak hanya meluluhlantakkan rumah dan sarana umum yang ada di sekitar lokasi kejadian, gempa Sulawesi dan tsunami tersebut juga membuat banyak orang berisiko terkena berbagai gangguan kesehatan.

Berikut adalah beberapa penyakit yang rentan terjadi setelah gempa dan tsunami:

1. Diare

Bencana alam seperti gempa dan tsunami membuat warga yang menjadi korban kesulitan untuk mencari sumber air bersih, sehingga risiko diare menjadi sangat tinggi.

Diare terjadi akibat mengonsumsi makanan atau sumber air yang mengandung bakteri maupun virus berbahaya seperti norovirus, salmonella, dan rotavirus. Seseorang yang terkena penyakit ini akan mengalami sakit perut, buang air besar encer lebih dari tiga kali sehari, dan demam. Jika terjadi secara berkelanjutan atau tidak segera diatasi dengan tepat, diare bisa menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan) hingga kematian.

2. Hepatitis A

Tidak tersedianya sumber air bersih di tempat pengungsian korban gempa dan tsunami membuat risiko hepatitis A menjadi sangat tinggi. Penyakit ini dapat menular dari satu orang ke orang lainnya melalui sumber air yang tercemar feses.

Orang yang mengalami hepatitis A akan mengalami beragam gejala, misalnya merasa letih, badan lemas, nyeri di bagian perut kanan atas, nyeri sendi dan otot, demam ringan, hilang nafsu makan, mual, sakit kepala, sembelit atau diare, juga kulit dan mata menjadi berwarna kuning

3. Meningitis

Meningitis alias radang selaput otak terjadi akibat infeksi bakteri, virus, jamur, maupun protozoa. Penyakit ini dapat menular melalui kontak jarak dekat, batuk, bersin, atau lingkungan yang tidak terjaga kebersihannya.

Meningitis memberikan gejala awal berupa demam tinggi, yang kemudian diikuti dengan sakit kepala, terasa kaku pada leher, muntah, penurunan kesadaran hingga kejang.

4. ISPA

ISPA alias infeksi saluran pernapasan akut merupakan penyakit yang terjadi akibat adanya infeksi virus maupun bakteri. Salah satu jenis dari ISPA yang paling sering ditemui adalah common cold, yang ditandai dengan gejala batuk dan pilek.

Korban gempa dan tsunami yang berada di pengungsian berisiko tinggi mengalami ISPA, karena penyakit ini bisa menular melalui droplet atau cairan yang dikeluarkan penderita saat batuk atau bersin. Meski terlihat sepele, ISPA yang tidak segera diatasi bisa menyebabkan berbagai komplikasi hingga kematian.

5. Leptospirosis

Ini adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira, dan bisa terjadi akibat adanya paparan langsung pada air kencing tikus. Sumber air atau makanan yang terkontaminasi oleh bakteri tersebut juga bisa menjadi media penyebaran penyakit ini.

Orang yang terjangkit leptospirosis akan mengalami gejala, seperti demam tinggi hingga menggigil, nyeri kepala, nyeri otot di daerah betis, sakit tenggorok disertai batuk kering, mata merah dan kulit menguning, mual, muntah-muntah, serta diare.

Mengingat adanya risiko penyakit tersebut, warga yang mengungsi akibat gempa dan tsunami diwajibkan untuk selalu berhati-hati. Jangan lupa untuk terus berupaya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, sambil menunggu bantuan dari pemerintah pusat. Jangan biarkan bencana alam datang bersama wabah penyakit di pengungsian.

 

Sumber : www.klikdokter.com

RS Juwita Bekasi 2015