2 1 3 4 5 6 7 8 9 10 11

SPESIALIS ANAK

FISIOTERAPI

HEMODIALISA

FARMASI

POLI RAWAT JALAN

LABORATORIUM

SPESIALIS THT

RUANG OK

RUANG NICU

RUANG ICU

Saat hari pertama masuk kerja, mungkin Anda pernah merasa malas dan cepat lelah. Padahal, di hari sebelumnya Anda telah cukup beristirahat atau bahkan bersenang-senang saat mengambil cuti. Kondisi seperti ini biasa disebut dengan social jet lag.

Dipengaruhi kebiasaan dan lingkungan

Manusia memiliki irama sirkadian, yaitu pengaturan waktu pada tubuh kapan harus beraktivitas dan kapan harus beristirahat. Irama sirkadian pada setiap orang bervariasi, bergantung kepada genetik dan pengaruh lingkungan.Tidak mengherankan, anak yang orang tuanya rajin begadang cenderung suka tidur lebih malam dibanding anak lainnya. Aktivitas sehari-hari seperti bekerja atau bersekolah juga akan mempengaruhi pilihan waktu tidur.

Irama sirkadian juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, misalnya ketika lampu dimatikan, Anda cenderung untuk lebih mudah tidur dibandingkan saat lampu dinyalakan.

Uniknya, irama sirkadian ini memiliki penyesuaian waktu tidur dan beraktivitas yang berbeda antara saat periode liburan dan hari biasa, dan hal inilah yang akhirnya menyebabkan seseorang terkena social jet lag.

Waktu tidur yang tidak terpenuhi saat hari kerja diatur sedemikian rupa agar terpenuhi saat periode libur. Dengan kata lain, tubuh mengatur mekanisme “balas dendam” tidur ini di akhir pekan.

Dampak yang akan dialami

Bila Anda sering mengalami social jet lag seperti yang dijelaskan di atas, ada baiknya segera memperbaiki pola tidur agar terhindar dari berbagai gangguan kesehatan berikut ini:

1. Penyakit jantung

Menurut American Academy of Sleep Medicine kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan, menimbulkan suasana hati yang buruk, rasa lelah, dan selalu mengantuk. Gawatnya, kondisi social jet lag ini dikatakan berisiko menyebabkan peningkatan penyakit jantung sebesar 11 persen.

2. Obesitas

Profesor Till Roenneberg dari Ludwig-Maximilian University, Jerman, melakukan penelitian bersama teman-temannya dan menemukan fakta bahwa orang yang waktu beraktivitasnya berlawanan dengan irama sirkadian yang normal antara tidur dan bekerja akan berisiko meningkatkan indeks massa tubuh atau dengan kata lain meningkatkan risiko kegemukan (obesitas) hingga 33 persen.

3. Diabetes

Ketika seseorang beraktivitas di waktu yang seharusnya digunakan untuk tidur, secara tidak langsung ia juga memaksa tubuhnya untuk bekerja di periode waktu tersebut. Metabolisme dalam kondisi minimal pun dipaksa untuk menjadi optimal untuk memenuhi kebutuhan energi saat beraktivitas.

Hal ini dapat menyebabkan kelainan metabolisme glukosa dan bisa berujung pada diabetes tipe 2 atau sindrom metabolik ( kelainan profil lipid, peningkatan kadar gula darah, lingkar perut yang besar,dan tekanan darah tinggi).

Tips menghindari social jet lag

Idealnya, irama sirkadian normal seharusnya diikuti, yakni tidur di malam hari dan beraktivitas di pagi hingga sore hari. Sayangnya, beberapa jenis pekerjaan memaksa Anda untuk mengubah irama sirkadian tersebut.

Untuk menurunkan risiko social jet lag, Anda disarankan untuk memperpanjang durasi waktu tidur. Sebab, semakin sedikit waktu tidur, maka efek social jet lag yang tidak diinginkan akan cenderung meningkat.

Menurut American Academy of Sleep Medicine, orang dewasa setidaknya memiliki waktu tidur 7 jam atau lebih dalam satu hari supaya tetap sehat. Selain jumlah waktu tidur, kualitas dan keteraturan jam tidur di malam hari juga penting untuk dipenuhi agar terhindar dari badan lemas karena social jet lag.

Untuk menghindari social jet lag, pola tidur yang baik juga perlu Anda terapkan di akhir pekan sekalipun. Dengan demikian, Anda pun akan terhindar dari risiko berbagai gangguan kesehatan di atas. Mulai sekarang, yuk optimalkan waktu tidur Anda dan hindari begadang untuk hal yang tidak perlu.

Sumber : www.klikdokter.com

Saat ini kanker tak bisa lagi dikatakan sebagai penyakit yang muncul pada usia tua. Pada sebuah penelitian yang dilakukan baru-baru ini, ditemukan bahwa beberapa tipe kanker meningkat secara drastis pada orang muda.

Penelitian yang terbit dalam Lancet Public Health dari American Cancer Society ini menganalisis data selama 20 tahun dari peserta penelitian yang sudah didiagnosa kanker berusia 25 tahun hingga 84 tahun. Hasilnya mengejutkan, yakni ditemukan peningkatan angka kanker pada orang berusia 25 tahun dan 49 tahun, khususnya jenis kanker yang berhubungan dengan obesitas.

Dari 12 jenis kanker yang terkait dengan obesitas yang diteliti, enam jenisnya menunjukkan lonjakan pada anak muda yang diteliti. Kanker tersebut adalah kanker kolorektal, endometrium, kantung empedu, ginjal, pankreas, multipel mieoloma, dan kanker sel plasma-kanker yang biasanya muncul pada pasien berusia 60 atau 70 tahunan.

Penelitian ini memang tidak berfokus pada penyebab spesifik dari peningkatan jenis kanker-kanker ini. Namun, dari penelitian ini didapatkan hipotesis bahwa tren tersebut mungkin dipengaruhi oleh kelebihan berat badan dan obesitas.

Dari penelitian terpisah yang dilakukan pada tahun 2018 menunjukkan bahwa berat badan berlebih memang menyumbang hingga 60% pada kanker endometrium, 36% pada kanker kantung empedu, 33% pada kanker ginjal, 17% pada kanker pankreas, dan 11% pada beberapa kanker miolema.

Penelitian ini memang dilakukan di Amerika, namun Anda tetap harus waspada terhadap tren ini. Itulah sebabnya, melakukan langkah pencegahan sangat disarankan sejak dini. Membiasakan diri untuk berolahraga dan mengonsumsi makanan yang sehat dan seimbang dapat membantu Anda mencegah kanker.

Sumber : www.1health.id

 

Dengan kemajuan teknologi, hadirnya internet dan media sosial, serta kemudahan akses mendapatkan dan menyebarkan informasi, kabar palsu atau hoaks pun kian subur di masyarakat. Bahkan, dilansir dari Antara, survei dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menyebut, hoaks yang paling banyak tersebar adalah mengenai informasi kesehatan. Penyebarannya paling banyak melalui media sosial. Penting untuk mengenali hoaks kesehatan yang tersebar di masyarakat agar Anda tak ikut-ikutan tertipu.

Ada banyak informasi yang beredar di media sosial ata grup chat yang tidak disertai bukti ilmiah. Informasi tersebut bisa menyesatkan dan merugikan banyak orang, apalagi yang berhubungan dengan kesehatan.

Apa saja hoaks kesehatan yang hingga kini masih beredar?

Vaksin pasti aman dan hanya vaksin yang dapat mencegah penyakit

Faktanya, vaksin memang hadiah terbesar dari bidang kesehatan dan ilmu pengetahuan untuk pencegahan penyakit. Namun, vaksin bukanlah satu-satunya solusi.Bila vaksin digunakan berlebihan tanpa anjuran dari praktisi kesehatan, bukannya mencegah penyakit, penggunaannya justru bisa membahayakan. Karena itu, vaksin harus digunakan secara tepat dan direkomendasikan oleh praktisi kesehatan. Bila ada keluhan setelah vaksinasi, segera hubungi dokter atau pergi ke rumah sakit terdekat.

Fluoride pada air minum menurunkan risiko gigi berlubang

Banyak orang mengira bahwa minum air dengan kandungan fluoride akan menurunkan risiko gigi berlubang. Meskipun benar, tetapi fluoride yang dikonsumsi berlebihan akan menimbulkan masalah kesehatan dan gigi.

Data statistik juga menjelaskan bahwa air dengan fluoride tak efektif dalam mengurangi masalah gigi berlubang. Bahkan, ini dapat menyebabkan fluorosis gigi, penurunan IQ, dan merusak tiroid.

Faktanya, fluoride hanya bekerja dari luar gigi secara aplikasi topikal. Fluoride yang diaplikasikan secara topikal dengan jumlah tertentu baru dapat mengurangi risiko gigi berlubang.

Matahari menyebabkan kanker kulit

Melanoma adalah satu jenis kanker kulit paling berbahaya, yang sering dikaitkan dengan paparan sinar matahari. Melanoma menyebabkan kematian kulit pada pasien kanker kulit. Hal ini tidak dapat menjelaskan secara ilmiah bahwa kulit yang terekspos matahari secara langsung dapat menyebabkan kanker kulit.

Faktanya, sinar matahari akan menghasilkan perlindungan untuk kulit dengan memberikan vitamin D yang berperan sebagai antigen dan melindungi kulit dari kanker kulit.

Lemak jenuh menyebabkan sakit jantung

Faktanya, lemak jenuh yang berasal dari hewan maupun sayuran sangat bergizi dan berfungsi membangun membran sel dan hormon, sehingga tubuh dapat bekerja dengan baik. Lemak jenuh adalah bahan bakar bagi jantung dan dapat dikonversi dari karoten menjadi vitamin A.

Kedelai adalah makanan sehat

Pernyataan ini tidak dilatarbelakangi oleh penelitian dan pembuktian yang kuat. Kedelai yang tidak difermentasi dapat membahayakan kesehatan. Meskipun kaya akan protein, saat kedelai dibungkus dan diproses, kualitasnya menjadi diragukan.Banyak studi yang menghubungkan kedelai yang tidak difermentasi dengan gangguan pada sistem pencernaan, menurunkan sistem imun, penurunan kognitif, infertilitas, bahkan kanker dan gangguan jantung. Alergi juga kerap dilaporkan pada beberapa orang.Faktanya, kedelai organik dan kedelai fermentasi adalah yang memiliki keuntungan bagi kesehatan jika dikonsumsi dalam porsi yang sesuai.

Minum air sebanyak 8 kali sehari

Menjaga tubuh dari dehidrasi memang penting. Namun, minum terlalu banyak juga dapat membahayakan tubuh. Jumlah air yang diminum harus disesuaikan dengan kebutuhan tiap  orang yang bisa berbeda-beda.

Vitamin C dapat mengatasi flu

Faktanya, vitamin C berfungsi untuk perlindungan dan meningkatkan kekebalan tubuh. Jadi, tak ada kaitan langsung antara vitamin C dengan fungsi mengatasi flu. Anda dianjurkan mendapatkan asupan vitamin C dari bahan makanan segar. Jika lewat suplemen, harus dikonsumsi sesuai anjuran dokter.

Jangan langsung percaya kabar kesehatan yang Anda baca di media sosial atau grup chat. Ini karena hoaks kesehatan adalah salah satu berita bohong yang banyak beredar. Karenanya, penting untuk mengenali berita palsu seputar kesehatan agar Anda tak tertipu sehingga berakibat pada kesehatan Anda.

 

 Mendengarkan musik memang bisa menjadi pereda stres. Anda juga bisa lebih konsentrasi dengan memasang earphone saat bekerja. Meski begitu, waspadalah untuk tidak terlalu sering mendengarkan musik terlalu keras. Tak hanya menurunkan kualitas pendengaran Anda, mendengarkan musik terlalu keras disinyalir dapat meningkatkan risiko kanker otak. Apa benar demikian?

Menurut dr. Atika dari KlikDokter, selama ini belum ada penelitian medis yang mengaitkan antara musik yang terlalu keras dengan kanker otak. Sebab, pada dasarnya, belum ada penyebab pasti dari tercetusnya kanker otak pada diri seseorang. Satu hal yang pasti dihasilkan dari kebiasaan buruk mendengarkan musik terlalu keras adalah noise induced hearing loss (NIHL), atau kehilangan kemampuan dengar.

“Biasanya orang yang terkena NIHL ini adalah orang-orang yang bekerja dari pagi sampai malam di lingkungan yang bising. Misalnya saja, lokasi pembangunan, pabrik, pokoknya yang menghasilkan suara bising dengan intensitas tinggi,” jelas dr. Atika.

Jadi, bila orang itu hanya sesekali saja mendengarkan musik keras menggunakan earphone ataupun speaker, tidak akan terlalu memengaruhi kualitas pendengaran.

“Kecuali jika dia memang intens, ya. Misalnya dari pagi sampai malam dan itu dilakukan setiap hari. Itu memang bisa merusak pendengaran atau NIHL. Tapi apakah bisa sampai memicu kanker otak? Kemungkinan besar tidak,” dr. Atika menekankan.

Gangguan pendengaran akibat volume suara

Sementara itu, dilansir Disabled-world.com, suara yang dianggap berbahaya untuk telinga manusia adalah paparan suara di atas 85 desibel dan berulang dalam waktu yang panjang. Semakin keras suaranya (makin tinggi desibelnya), semakin cepat orang yang berada di daerah itu untuk terkenal NIHL.

Beberapa suara yang bisa meningkatkan risiko NIHL, antara lain:

Sirine (120 desibel)Sepeda motor (95 desibel)Kebisingan lalu lintas (85 desibel)Senjata api atau petasan (150 desibel)Suara musik MP3 dengan volume maksimal (105 desibel). 

Sebelum seseorang kehilangan kemampuan dengarnya, biasanya suara keras akan membuat telinga seseorang berdengung dulu, atau disebut dengan tinnitus. Jika Anda pernah mengalami tinnitus dan Anda menghindari sumber masalahnya untuk beberapa waktu ke depan, tinnitus bisa mereda.

Tetapi bila tinnitus Anda abaikan dan Anda tetap mendengarkan musik terlalu kencang - atau berada di lingkungan yang terlalu bising sepanjang waktu - risiko kehilangan pendengaran pun semakin besar.

 

Faktor risiko kanker otak

Jika sering mendengarkan musik keras itu tidak memicu kanker otak, hal apa yang bisa menyebabkan kanker otak? Sama seperti yang sudah dipaparkan oleh dr. Atika di atas, dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid dari KlikDokter juga mengatakan bahwa penyebab kanker otak belum diketahui secara pasti.

“Tapi ada sejumlah faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami kanker otak, misalnya faktor usia, riwayat keluarga, kondisi genetik, dan radioterapi,” kata dr. Resthie.

Bicara soal kondisi genetik, salah satu gen yang bermutasi dan dapat memicu kanker otak adalah gen p53. “Sebenarnya dalam kondisi normal, gen tersebut berperan dalam mencegah terjadinya tumor. Namun saat bermutasi, gen p53 justru berperan sebaliknya. Pada kasus kanker otak, 25-40 persennya dipicu oleh kelainan gen ini,” dr. Resthie menekankan.

Meskipun sering mendengar musik keras tidak memicu kanker otak, bukan berarti Anda bisa melakukannya setiap waktu. Sebab, hal tersebut hanya akan membuat Anda kehilangan kemampuan dengar secara permanen. Anda juga perlu mewaspadai gejala-gejala kanker otak, terutama bila memiliki faktor risiko. Gejala kanker otak meliputi sering nyeri kepala, mudah lelah, mual dan muntah, kejang, dan terganggunya kemampuan berbicara serta daya nalar. Bila Anda mengalami salah satu dari gejala tersebut, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.

Sedang mencoba melakukan diet tapi berat badan tak kunjung turun? Atau porsi makan rasanya biasa-biasa saja, tapi, kok, berat badan terus melambung? Coba, deh, evaluasi kualitas tidur Anda. Pasalnya, kurang tidur diam-diam bisa bikin Anda gemuk. Kok, bisa?

Ya, kebanyakan orang tahu bahwa kegemukan berhubungan dengan asupan kalori yang berlebihan. Namun, tak banyak yang tahu bahwa ada komponen penting lain yang juga memengaruhi berat badan, yakni kecukupan dan kualitas tidur.

Kaitan antara kurang tidur dan kegemukan

Banyak studi menunjukkan bahwa kurang tidur akan memengaruhi nafsu makan seseorang. Ini adalah salah satu hal yang mampu menjelaskan mengapa banyak orang yang kurang tidur kronis cenderung memiliki berat badan berlebih, bahkan obesitas. Sebut saja mahasiswa yang kerap begadang, orang tua baru, dan para pekerja shift.

Di dalam tubuh, nafsu makan dipengaruhi oleh dua hormon, ghrelin dan leptin. Seseorang yang kurang tidur akan mengalami peningkatan kadar hormon lapar, yakni ghrelin, dan penurunan kadar hormon kenyang, yakni leptin. Bila ini terjadi, maka seseorang akan cenderung makan berlebihan dan mengalami peningkatan berat badan.

Ada pula hormon lain, yaitu endocannabinoids, yang kadarnya juga dipengaruhi oleh kecukupan waktu tidur. Kadar hormon ini cenderung meningkat pada siang ke sore hari pada individu yang kurang tidur, dan mendorong seseorang untuk terus makan agar merasa nyaman. Kondisi ini juga dikenal sebagai comfort atau hedonic eating.

Wujud dari terganggunya hormon-hormon ini tampak pada studi-studi yang menyebutkan bahwa saat kurang tidur, seseorang cenderung mengonsumsi 300 kalori lebih banyak per hari ketimbang saat waktu tidurnya cukup. Sebagian besar kalori ekstra ini berasal dari konsumsi makanan tinggi karbohidrat dan lemak.

Selain nafsu makan, kurang tidur juga memengaruhi laju metabolisme dan pembakaran kalori. Ada studi yang menemukan bahwa pada pagi setelah sebelumnya kurang tidur, pembakaran kalori akan berkurang hingga 5-20 persen untuk proses-proses seperti bernapas dan mencerna, ketimbang saat cukup tidur. Ini menunjukkan bahwa kurang tidur membuat metabolisme tubuh melambat, yang membuat tubuh cenderung menyimpan lebih banyak lemak.

Menurut studi yang dimuat dalam jurnal Annals of Internal Medicinekurang tidur selama empat hari saja sudah bisa meningkatkan berat badan. Apabila kondisi ini berlangsung terus-menerus, efeknya tidak hanya membuat seseorang menjadi gemuk, tetapi juga berisiko mengalami diabetes tipe 2.

Cara mengetahui apakah Anda sudah cukup tidur

Kebutuhan tidur tiap orang ber beda-beda. Namun, pada umumnya orang dewasa membutuhkan waktu tidur sebanyak 7-9 jam sehari. Sebagian individu bisa kurang atau lebih dari itu, tapi normalnya tidak kurang dari 6 jam.

Namun, jumlah waktu tidur saja belum cukup untuk menentukan apakah pola tidur Anda sudah baik. Untuk bisa disebut sehat, pola tidur memiliki unsur keteraturan, dalam arti bangun dan tidur di waktu yang kurang lebih sama, serta bebas dari gangguan tidur seperti insomnia, henti napas saat tidur (sleep apnea atau restless leg syndrome).

Untuk mengetahui berapa jumlah jam tidur yang Anda perlukan, coba lakukan hal ini. Cari waktu atau pergi berlibur ketika Anda bisa benar-benar terbebas dari pekerjaan dan rutinitas sehari-hari.

Tidurlah pada waktu biasanya Anda tidur, tetapi jangan menyetel alarm. Pada beberapa hari pertama, Anda mungkin tidur lebih banyak dari biasanya untuk “membayar” kekurangan waktu tidur selama beberapa waktu belakangan. Berikutnya, saat pola tidur sudah stabil, catat berapa jam Anda tidur, lalu ditambah atau dikurangi 15 menit. Inilah kebutuhan tidur Anda yang sesungguhnya.

Dari penjelasan di atas, kini bertambah lagi alasan untuk Anda lebih memperhatikan kualitas tidur, karena kurang tidur bisa berpotensi bikin gemuk. Perhatikan pula apakah faktor-faktor seperti gaya hidup, pekerjaan, stres psikologis, atau adanya penyakit tertentu membuat waktu tidur Anda kurang dan tidak berkualitas. Ini semua perlu dikenali dan dikelola agar tidak menimbulkan konsekuensi yang lebih kompleks, seperti diabetes dan hipertensi.

RS Juwita Bekasi 2015